Sama Sulitnya, Lepas dari Ganja atau Rokok

Awalnya memang hanya mencoba-coba, tapi lama-lama bisa jadi ketagihan atau kecanduan. Itulah yang terjadi jika Anda mengenal beberapa benda yang bisa menyebabkan kecanduan seperti rokok, ganja atau pun narkoba.


Sekali menghisap tembakau atau ganja misalnya, Anda mungkin bisa merasakan efeknya. Padahal untuk melepaskan diri dari jerat kedua jenis candu ini tidaklah mudah. Sebuah penelitian mengungkapkan, melepaskan diri dari kecanduan ganja atau mariyuana sama sulitnya dengan menghentikan kebiasaan merokok tembakau.

Adalah peneliti dari Johns Hopkins University School of Medicine di Baltimore yang membuat kesimpulan ini setelah melakukan sebuah studi kecil yang melibatkan 12 orang dewasa pecandu berat ganja dan rokok. Dari penelitian terungkap bahwa seseorang yang menghentikan kebiasaan menghisap ganja akan mengalami sakaw atau gejala kemunduran (withdrawal symptoms) yang sama dengan orang yang berupaya menghentikan kebiasaan merokok

Seperti halnya gejala kemunduran pada nikotin, dari penelitian terlihat bahwa menghentikan ganja juga dapat menyebabkan seseorang mengalami masalah seperti emosi yang mudah meluap, cemas, susah tidur dan sulit berkonsentrasi.

“Beberapa orang mungkin akan membuat Anda yakin bahwa ganja tidaklah berbahaya,” ungkap pimpinan riset Ryan Vandrey, seorang asister profesor dari bagian Psikiatri Johns Hopkins University School of Medicine

Namun, lanjut Vandery, sejumlah penelitian lain telah membuktikan bahwa fakta tentang “sindrom gejala kemunduran ganja” itu memang ada “Temuan ini memberikan bukti akan signifikansinya,” tegas Vandrey.

Walau begitu, dari penelitian ini belum jelas apakah gejala kemunduran ganja akan menrintangi keberhasilan seseorang untuk sembuh atau lepas dari kecanduan. Tetapi Vandrey mengatakan bahwa survey sebelumnya terhadap pengguna ganja yang tengah menjalani terapi menunjukkan bahwa orang yang mengalami gejala kemunduran cenderung lebih sulit untuk sembuh.

Dalam riset yang dipublikasikan jurnal Drug and Alcohol Dependence ini, Vandrey dan rekannya melibatkan para pecandu pria dan wanita yang menggunakan mariyuana setidaknya empat kali sehari dan merokok rata-rata 20 batang sehari. Tidak satu pun dari pecandu ini punya keinginan untuk berhenti atau melepaskan dari candu.

Vandrey dan timnya lalu meminta relawan pecandu ini untuk berhenti sementara dalam tiga periode berbeda masing-masing selama lima hari. Periode pertama, pecandu harus berhenti merokok, periode lainnya pecandu harus puasa dari ganja, dan peride terakhir para pecandu harus melupakan kedua jenis tersebut .

Dari pengamatan setiap kelompok secara keseluruhan, peneliti penemukan gejala kemunduran pada periode ganja sama parahnya dengan gejala kemunduran nikotin atau tembakau. Namun begitu, gejala kemunduran ini tidak mencapai titik terburuk ketika para pecandu harus puasa dari kedua jenis tersebut.

Penemuan ini, menurut Vandrey, seharusnya dapat membantu para pecandu berat ganja mendapatkan masukan tentang apa yang mereka bayangkan soal kata “kemunduran”. Penelitian lain sejauh ini masih terus mencari cara untuk meringankan gejala ini misalnya pengobatan dengan menggunakan THC, bahan aktif dalam ganja.

Vandrey menambahkan pula, obat-obat tidur juga memiliki potensi menyembuhkan, karena buruknya kualitas tidur seringkali menjadi bagian dari kemunduran, meski sejauh ini belum diteliti lebih jauh.

Rabu, 6 Februari 2008 Kompas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: